Yoyok yoeswanto sejarah polri
August 28, 2020 at 9:15 AM

KEBERHASILAN POLISI ISTIMEWA MERAMPAS PERSENJATAAN DARI JEPANG DI GUDANG SENJATA Don Bosco

Gedung Don Bosco merupakan gedung yang digunakan oleh Jepang sebagai gudang senjata yang dikuasai oleh Dai 10360 Butai Kaisutiro Butai, gedung ini berada di bawah pimpinan Mayor Hashimoto. Pasukan Mayor Hashimoto ini terdiri atas satu detasemen tentara serta pegawai sipil yang berjumlah 150 orang. Gedung ini terletak di perbatasan Surabaya sebelah barat, dekat perkampungan Sawahan. Gedung ini dulunya sebagai gedung asrama pendidikan Katolik.
Sejak tanggal 26 September 1945, gudang senjata Don Bosco sudah mulai didatangi oleh masyarakat. Masyarakat yang datang ke gudang senjata Don Bosco ini membawa berbagai macam senjata, ada yang membawa bambu runcing dan ada yang membawa senjata api yang didapatkan dari perampasan terhadap tentara Jepang. Masyarakat ini sudah datang ke Don Bosco sejak pagi dan jumlah mereka pun semakin lama semakin bertambah. Mereka yang datang ke Don Bosco sambil berteriak dengan sangat semangat menandakan bahwa mereka sudah tidak sabar untuk mengambil senjata dari gudang senjata Don Bosco. Hal tersebut karena gudang senjata Don Bosco ini merupakan gudang senjata milik tentara Jepang terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Surabaya, sehingga gudang senjata ini menjadi pusat perhatian untuk pengambilan senjata.

Pada saat dalam perebutan senjata di Don Bosco ini Polisi Istimewa menjadi pelopor, karena Polisi Istimewa memiliki persenjataan yang lengkap dari Jepang. Akhirnya pihak dari Don Bosco yang diwakili oleh seorang perwira berbadan besar menemui Bung Tomo untuk melakukan perundingan. Dalam perundingan tersebut pihak Jepang tidak ingin menyerahkan senjata-senjata tersebut sebelum ada perintah dari Panglima Tentara Jepang di Jawa Timur, Mayor Jenderal (Mayjen) Iwabe. Terjadi perundingan antara Bung Tomo dengan komandan gudang senjata Don Bosco yaitu Mayor Hashimoto. Mayor Hashimoto merasa keberatan bila pihak Don Bosco harus berhadapan langsung dengan rakyat yang berada di luar. Supaya ada yang bisa bertanggung jawab untuk menjamin keamaan, akhirnya Mayor Hashimoto meminta agar bisa berhubungan dengan pembesar Republik Indonesia. Permintaan tersebut pun dituruti, kemudian Bung Tomo menghubungi markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan kantor Pemerintah Kota Surabaya. Tidak lama kemudian datang Soejitno dari Barisan Pencegah Bahaya Udara (Keibodan) Kota dan H. R. Mohammad (mantan Daidancho Peta Sidoarjo) untuk melakukan perundingan. Hasil perundingan tersebut, yaitu:
1. Komandan gudang senjata Don Bosco beserta wakil dari Kempetai harus berjanji akan menyerahkan senjata- senjatanya setelah Panglima Tentara Jepang di Jawa Timur Mayjen Iwabe mengetahui semua peristiwa yang terjadi.
2. Rakyat yang melakukan pengepungan gudang senjata Don Bosco diminta untuk membubarkan diri.

Pihak Don Bosco akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan persenjataan beserta gedungnya, tetapi pemberian senjata tersebut harus berada di bawah tanggung jawab dari Polisi Istimewa. Setelah itu Mayor Hashimoto meminta Moehammad Jasin untuk membuat surat penyerahan persenjataan yang akan diberikan kepadanya. Surat tersebut sebagai barang bukti kepada tentara Sekutu bahwa persenjataan diberikan kepada pihak Indonesia untuk menambah perlengkapan senjata untuk menjaga keamanan. Dalam proses penandatangan penyerahan senjata, pihak Don Bosco berdiam diri, hal tersebut mencerminkan sebenarnya mereka tidak ingin menyerahkan senjata dan juga khawatir kalau mereka nanti dituduh sebagai penjahat perang oleh pihak Sekutu karena telah memberikan persenjataan ke pihak Indonesia. Kemudian Moehammad Jasin meminta Mayor Hashimoto untuk cepat melakukan penandatanganan tersebut. Hal tersebut dikarenakan masyarakat yang berada di luar gedung sudah mulai berteriak-teriak, masyarakat yang di luar sudah lama menunggu.

Setelah penyelesaian tanda tangan naskah tersebut, penyerahan senjata di gudang senjata Don Bosco ini berjalan dengan tertib dan suasana tenang. Setelah berhasil mendapatkan senjata yang ada di Don Bosco, kemudian senjata-senjata tersebut dibagi-bagikan kepada rakyat dan badan-badan perjuangan lainnya. Karena gudang senjata Don Bosco merupakan gudang senjata tentara Jepang terbesar di Asia Tenggara, jumlah senjata yang didapat dari gudang senjata Don Bosco ini sangat banyak, bahkan sebanyak empat gerbong kereta berisi senjata dikirim ke Jakarta.Dalam pengambilan senjata di Don Bosco ini Polisi Istimewa menunjukkan peran pentingnya, apalagi dengan komandan Polisi Istimewa yaitu Moehammad Jasin sangat bisa melakukan perundingan dengan pihak Don Bosco sehingga bisa meyakinkannya untuk memberikan senjata-senjatanya dan menjamin keselamatan mereka.