Yoyok yoeswanto sejarah polri
August 28, 2020 at 12:54 PM

SIAPAKAH DIA POLISI YANG DILABELI GUS DUR SEBAGAI POLISI YANG TERJUJUR DI INDONESIA?

Hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia
Polisi tidur
Patung polisi
Dan Hoegeng
-Gus Dur-
Itulah lawakan dari Almarhum KH. Wahid Hasyim atau biasa di panggil Gus Dur untuk menyindir kinerja polisi-polisi yang ada di Indonesia.
Jendral Polisi (Purn.) Drs. Hoegeng Imam Santoso (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 – meninggal di Jakarta, 14 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah salah satu tokoh kepolisian Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 yang bertugas dari tahun 1968 - 1971. Hoegeng juga merupakan salah satu penandatangan Petisi 50. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Bahayangkara di Mamuju dengan nama Rumah Sakit Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso.
Hoegeng masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sekolah menengah pertama pada pemerintahan colonial belanda di Indonesia pada tahun 1934 dan menempuh sekoah menengah di AMS (Algemeene Middelbare School) Westers Klasiek pada tahun 1937. Setelah itu ia belajar ilmu hukum di Rechts Hoge School Batavia pada tahun 1940. Sewaktu pendudukan jepang di Indonesia, ia mengikuti pelatihan kemiliteran Nippon pada tahun 1942 dan Koto Keisatsu Ka I-Kai pada tahun 1943. Setelah mengikuti emiliteran Nippon Hoegeng diangkat menjadi Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang, Semarang pada tahun 1944 dan sampai menjadi kepala polisi Jomblang pada tahun 1945.
Dilansir dari buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono (2013), Hoegeng ternyata juga merupakan sosok yang rajin dan teliti menuliskan jurnal harian. Ia terbiasa menuliskan pengalaman sehari-hari dalam sebuah buku berukuran besar. Pengalaman-pengalaman itu ditulis menggunakan tulisan tangan Hoegeng sendiri lengkap dengan tanggal kejadian. Tak hanya pengalaman baik-baik saja yang ditulis, tetapi peristiwa buruk juga diabadikan dalam catatan itu.
Suatu hari, catatan-catatan Hoegeng itulah yang menyelamatkannya dari fitnah salah seorang rekannya di kepolisian. Sebagaimana dituturkan Suhartono, Hoegeng pernah dipanggil Presiden Soekarno. Saat itu, Presiden ingin menanyakan kebenaran kabar yang menyebut Hoegeng ingin menggulingkan atasannya saat itu, yakni Soetjipto Joedodihardjo. Saat itu, Soetjipto menjabat sebagai Kapolri sekaligus Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian (Pangak). Ketika ditanya langsung oleh Presiden, Hoegeng terkejut lantas bertanya,"Siapa yang bilang?" Presiden Soekarno lantas menyebut satu nama. Hoegeng lalu minta agar dirinya dikonfrontasi dengan orang tersebut. Presiden setuju dan menjadwalkan pertemuan dengan orang yang bersangkutan untuk mengkonfrontasi tuduhan itu.
"Dalam pertemuan itu, Hoegeng memang diajak untuk ikut menggulingkan Menpagak. Namun, di catatan buku itu, Hoegeng menyatakan tak bersedia ikut mendongkel Menteri/Pangak. Selama Pak Tjipto adalah atasan Hoegeng, Hoegeng tidak mau mendongkelnya. Apapun alasannya," tegas Hoegeng. "Jadi jangan memutarbalikkan fakta begitu Mas, Wong sampeyan sendiri yang mengajak untuk mendongkel Pak Tjipto, mengapa Hoegeng yang kemudian dituduh ?" jelas Hoegeng sambil membacakan dan menunjukkan catatan Kepada Presiden dan orang yang bersangkutan. Di catatan itu, Hoegeng menunjukkan orang tersebut dua kali dan ke rumahnya saat mengajak Hoegeng untuk ikut menumbangkan Soetjipto. Namun, Hoegeng tetap tidak bisa dibujuk untuk merebut jabatan orang lain tanpa hak dan mengorbankan orang lain. Akhirnya, Presiden bertanya kepada yang bersangkutan. "Apakah yang diceritakan Hoegeng itu benar?" tanya Soekarno. Polisi itu lalu menjawab "Inggih Kasinggian (ya betul)," jawab polisi itu. Hoegeng kemudian meminta yang bersangkutan untuk tidak lagi memutarbalikkan fakta. Presiden Soekarno menegurnya dan menganggap persoalannya selesai. Dengan alasan tidak mau mempermalukan pihak lain, pihak yang mengetahui cerita ini sengaja tidak mau menyebutkan siapa orang yang dimaksud Hoegeng yang telah mencoba memfitnahnya lewat Presiden Soekarno itu.
Itulah singkat cerita dari polisi Hoegeng yang lolos dari fitnah berkat catatan yang dibawahnya. Hoegeng pun memiliki banyak penghargaan yang diterimannya atas semua pengabdiannya kepada negara, Hoegeng Imam Santoso telah menerima sejumlah tanda jasa,
• Bintang Gerilya
• Bintang Dharma
• Bintang Bhayangkara I
• Bintang Kartika Eka Paksi I
• Bintang Jalasena I
• Bintang Swa Buana Paksa I
• Satya Lencana Sapta Marga
• Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II)
• Satya Lencana Peringatan Kemerdekaan
• Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
• Satya Lencana Dasa Warsa
• Satya Lencana GOM I
• Satya Lencana Yana Utama
• Satya Lencana Penegak
• Satya Lencana Ksatria Tamtama